Alamat Redaksi:

Ciwidey Pertengahan Kav. Kebun 9 No. 79,
Kelurahan Hajarsari, Kecamatan Bandung Utara
Kota Bandung
Jawa Barat

2 Penari Tari Gambyong asal Surakarta

Tari Gambyong Asal Surakarta: Sejarah, Gerakan, Busana dan Keunikannya

Tari Gambyong merupakan tarian tradisional asal Surakarta yang memiliki sejarah panjang. Gerakannya yang lemah gemulai diiringi dengan musik gamelan Jawa. Tarian ini bercerita tentang seorang wanita yang menarik perhatian raja dengan gerakan indahnya. Keunikan dari tari Gambyong adalah adanya adegan di mana penari membawa satu atau dua buah bantal kecil yang diisi dengan beras dan diletakkan di atas kepala. Tarian ini juga sering dipertunjukkan pada acara pernikahan atau upacara adat Jawa lainnya.

Tari Gambyong adalah seni tari asli dari Surakarta yang memiliki sejarah panjang, gerakan gemulai, busana khas, dan keunikan tersendiri. Sejak zaman dahulu, tarian ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat di Jawa di Surakarta. Tari Gambyong mampu mengungkapkan kisah-kisah, nilai-nilai, dan kebudayaan yang terkandung di dalamnya. Penonton akan terpesona oleh gerakan tari yang gemulai dan menyenangkan dipandang mata, serta alunan musik geding Jawa ketika menonton tarian ini. Tari Gambyong memiliki busana khusus yang membuatnya berbeda dari tarian lainnya.

Sejarah dan Asal Usul Tari Gambyong

Sejarah tari Gambyong sudah disebutkan dalam Serat Centhini, sebuah kitab yang ditulis pada masa pemerintahan Pakubuwana IV (1788-1820) dan Pakubuwana V (1820-1823). Tarian ini dahulu merupakan tarian rakyat yang bernama tlèdhèk. Namun, seorang penata tari bernama K.R.M.T. Wreksadiningrat menggarap dan memperhalus tarian ini agar pantas dipertunjukkan di kalangan para bangsawan pada masa pemerintahan Pakubuwana IX (1861-1893). Pada masa itu, tari Gambyong biasa ditampilkan pada saat acara para tamu di lingkungan Istana Mangkunegaran.

Pada tahun 1950, versi Gambyong yang telah “dibakukan” dibuat oleh Nyi Bei Mintoraras, seorang pelatih tari dari Istana Mangkunegaran pada masa Mangkunegara VIII, yang dikenal sebagai Gambyong Pareanom. Tarian ini disukai oleh banyak orang sehingga memunculkan versi-versi lain yang dikembangkan untuk konsumsi masyarakat luas. Seiring waktu, tarian ini semakin populer dan dikenal di luar daerah Surakarta.

Perkembangan Tari Gambyong

Bisa dilihat bahwa perkembangan tari ini telah berkembang pesat dan signifikan, bahkan melalui inovasi dan kolaborasi, tarian ini semakin menarik untuk dinikmati. Pada era tahun 80-an perkembangan tari ini mencapai puncaknya, dimana tari Gambyong banyak dipertunjukkan ke luar Surakarta dengan berbagai kreasi dan modifikasi gerak.

Para seniman yang berasal dari Jawa Tengah juga berlatih dan menampilkan tarian dengan berbagai inovasi baik dalam kualitas gerakan, ritme, maupun dinamika yang terdapat di dalamnya. Bentuk tari tunggal yang awalnya menjadi ciri dari tari Gambyong mulai mendapat inovasi dengan melakukan tarian secara kelompok mulai dari 2 hingga 6 penari. Hal ini menjadikan tarian ini dikenal sebagai tarian variasi yang dapat dilakukan secara personal maupun kelompok.

Berbagai variasi tari Gambyong pun bermunculan, seperti Gambyong Solo Minulya, Gambyong Campursari, Gambyong Ayun-Ayun, Gambyong Mudhatama, Gambyong Gambirsawit dan Gambyong Pangkur yang sama-sama memiliki keunikan dan inovasi tersendiri dalam gerakan maupun lagu pengiringnya. Ini menandakan bahwa tari Gambyong telah berkembang dan semakin menarik untuk dikembangkan lebih luas lagi.

Fungsi Tari Gambyong dan Keunikannya

Tarian Gambyong memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan berkesenian keluarga keraton dan masyarakat Surakarta, mulai dari hadiah persembahan bagi raja hingga hiburan khusus untuk tamu kehormatan, membuatnya menjadi tarian yang unik dan menarik untuk ditonton. Awalnya, tarian ini ditampilkan pada acara sedekah bumi dengan harapan mendapatkan hasil panen yang melimpah. Namun, sekarang tarian ini menjadi hiburan bagi masyarakat dan wisatawan. Gerakan tari yang gemulai dan indah sangat menghibur, sehingga Mas Ajeng Gambyong diijinkan untuk mempertunjukannya di hadapan Raja.

Para seniman telah mengembangkan tari Gambyong dengan inovasi dan modifikasi, sehingga sekarang tarian ini dapat ditampilkan dalam berbagai acara pentas seperti perkawinan, sunatan, tasyakuran, dan lain sebagainya. Tarian ini masih berfungsi sebagai hiburan umum dan juga ditampilkan di hadapan tamu kehormatan pihak Kesultanan Surakarta. Keunikan dan keindahan estetika dalam gerakan Tari Gambyong membuatnya layak dinikmati oleh para penikmat seni tari.

Seni tari Gambyong ini memiliki nilai filosofi yang tinggi dan menjadi tarian andalan di Keraton Surakarta. Keunikan dan keindahannya menjadi nilai tambah tersendiri dan menarik perhatian penonton. Hal ini menjadikan tarian tersebut memiliki peran penting bagi masyarakat Surakarta, sebagai tarian hiburan, sebagai sebuah hadiah, dan sebagai hiburan khusus bagi tamu kehormatan.

Gerakan Tari Gambyong terdiri atas tiga bagian, yaitu: bagian awal, isi, dan akhir. Gerakan kaki, lengan, tubuh, dan kepala menjadi pusat dari keseluruhan tarian ini. Gerakan kepala dan tangan menjadi ciri khas utama tari Gambyong. Selain itu, gerakan kaki yang harmonis membuat tarian ini terlihat indah.

Perlengkapan Tari Gambyong

Untuk menari, penari menggunakan berbagai perlengkapan, seperti Busana Tari, Alat Musik, dan Lagu Pengiring. Dengan bantuan perlengkapan ini, tari menjadi hidup dan penonton dibawa dalam perjalanan melalui cerita tari tersebut.

Busana Tari

Dalam tarian Gambyong, penari mengenakan busana indah dengan pernik-pernik dan hiasan khas yang dikenakan. Busana tersebut terdiri dari jarik, mekak, selendang, sabuk, gelang, dan kalung. Jarik adalah kostum yang dilingkarkan pada tubuh penari, mekak menutupi dada, selendang menjadi kalung di leher, sabuk dikenakan di pinggang, gelang pada tangan kanan dan kiri, dan kalung menghiasi tubuh penari. Pada beberapa kesempatan, tarian Gambyong Pareanom juga ditampilkan dengan pakaian khas dengan warna mencolok seperti hijau dan kuning sebagai lambang kesejahteraan dalam hal kesuburan dan kemakmuran. Dengan kombinasi warna dan gerakan tubuh yang tepat, penari Gambyong dapat menciptakan suasana yang khas dan menakjubkan.

Alat Musik dan Lagu Pengiring

Alat musik tradisional gamelan menciptakan suasana khas yang mengiringi Tari Gambyong Pareanom, mulai dari bunyi plak kendang hingga nada rendah dari pukulan gong. Kendang adalah alat musik yang dimainkan dengan cara ditabuh atau dipukul menggunakan tangan dan menimbulkan bunyi plak, pluk, atau gendang. Bunyi dari alat musik ini menjadi pengiring utama sebagai panduan gerakan Tari Gambyong.

Gong berperan sebagai alat musik utama dengan suara besar dan menggelegar yang menjadi pengiring tari. Kenong dan Gambang menjadi alat musik yang berperan sebagai melodi dalam musik Jawa yang mengiringi Tari Gambyong Pareanom. Alat ini dimainkan dengan cara dipukul dan meskipun suaranya tidak terdengar dominan, namun tidak kalah pentingnya sebagai pengiring lagu Jawa dalam sebuah pementasan. Alat musik ini dapat menciptakan suasana khas yang menambah keseruan saat menonton Tari Gambyong Pareanom.

Sebelum memulai tari, selalu dibuka dengan gendhing Pangkur. Teknik gerak, irama iringan tari, dan pola bunyi dari pukulan kendang dipadukan untuk menampilkan karakter tari yang luwes, kenes, kewes, dan tregel.

Penutup

Kamu baru saja belajar tentang tari gambyong dari Surakarta, sejarahnya, gerakannya, busananya, dan keunikan. Ini adalah tarian tradisional yang luar biasa yang telah ada selama berabad-abad dan masih dinikmati oleh banyak orang. Gerakannya dan busananya memberi kita banyak informasi tentang budaya Surakarta dan masyarakatnya. Ini adalah tarian yang indah dan unik dari salah satu Kesultanan di Indonesia.